Di tengah maraknya tren kuliner modern dan internasional, muncul sebuah gerakan yang mengajak generasi muda untuk kembali menghargai kekayaan kuliner tradisional. Gerakan ini diwujudkan melalui sebuah kompetisi memasak yang unik dan inspiratif, bertajuk “Dapoer Oma”, yang bertujuan untuk mencari koki-koki muda yang tidak hanya piawai berkreasi, tetapi juga mampu melestarikan resep-resep warisan nenek. Acara ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan, melainkan sebuah misi untuk menjaga agar cita rasa otentik masakan Nusantara tidak hilang ditelan zaman.
Kompetisi memasak ini diadakan secara daring dan luring, dengan tahap penyisihan dilakukan di empat kota besar di Indonesia. Menurut panitia pelaksana, Bapak Heri, pada tanggal 10 April 2025, tahap audisi di Jakarta saja berhasil menarik lebih dari 300 peserta muda. Mereka datang dengan berbagai resep rahasia keluarga, mulai dari sayur lodeh, rendang otentik, hingga kue-kue tradisional yang sulit ditemukan saat ini. Juri tidak hanya menilai rasa, tetapi juga otentisitas resep dan kemampuan peserta untuk menceritakan kisah di balik hidangan yang mereka masak. Hal ini menunjukkan bahwa kompetisi memasak ini lebih dari sekadar perlombaan; ia adalah sebuah festival cerita dan warisan budaya.
Pemenang dari kompetisi memasak ini tidak hanya mendapatkan hadiah uang tunai, tetapi juga beasiswa untuk studi kuliner di sebuah institusi ternama dan kesempatan untuk menjadi chef tamu di restoran-restoran ternama. Salah satu finalis, seorang pelajar berusia 17 tahun bernama Siska, berhasil memukau juri dengan hidangan opor ayam buatan neneknya. Siska mengaku, ia membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyempurnakan resep tersebut. Ia bahkan meminta catatan resep neneknya yang sudah memudar dan melakukan serangkaian percobaan. Pengalaman ini mengajarkan Siska bahwa melestarikan warisan kuliner membutuhkan dedikasi dan kesabaran yang luar biasa.
Acara “Dapoer Oma” ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang melihatnya sebagai inisiatif penting dalam melestarikan budaya bangsa. Sebuah laporan dari Kementerian pada 17 Mei 2025 menyebutkan bahwa inisiatif seperti ini sangat penting untuk menanamkan rasa bangga pada generasi muda terhadap kekayaan kuliner mereka sendiri. Diharapkan, kompetisi memasak ini dapat menjadi agenda tahunan dan menginspirasi lebih banyak anak muda untuk belajar dari para sesepuh mereka.
Pada akhirnya, “Dapoer Oma” bukan sekadar mencari juara, melainkan mencari penerus yang akan membawa resep-resep nenek ke masa depan. Dengan semangat kreativitas dan apresiasi terhadap tradisi, kompetisi ini membuktikan bahwa makanan klasik tidak akan pernah usang, dan justru menjadi fondasi yang kokoh untuk perkembangan kuliner Indonesia di masa depan.